Galau

Ahh… aku terhanti pada gelap malam yang menghantarku pada persimpangan kecil hidup ini. setiap orang pasti pernah merasakah pekat dihati hingga menyeruak ke permukaan. Inilah mungkin disebut Galau.

Pun diriku seperti itu, namun bukan karena sesuatu yang semu. Diriku masih saja tak bisa meniti di atas jalan-Nya. Sesekali berjalan, maka setelah itu terhempas jauh dari titian tersebut. Susah memang, apalagi sendiri di kota yang sudah terlalu jauh dari titian itu.

Melihat orang-orang yang berhasil melalui jalan ini, membuat hati ini iri. Mereka bisa bebas melanggeng di jalan tersebut hingga dapat melepaskan attribut fana dunia ini. Namun diri ini, masih saja bersimbah maksiat. Bagaimana mau berjalan pada jalan tersebut, mengetahui arahnya saja diri tidak bisa.

Ya Rabb, jalan-Mulah sebaik-baik jalan pada hidup yang sesaat ini. Maka pertemukan hamba pada jalan lurus-Mu. Izinkan hamba berjalan di atasnya meski getir dan berdara-darah. Izinkan hamba ini berjuang dan mati di atas jalan-Mu.

 

Jakarta, 15 Rabiul Awal 1436 H

Advertisements
Standard

Orang Asing

Seindah apapun dunia, jadilah kita tetap sebagai orang asing baginya. Sebab, dari Allah kita berasal dan kepada-Nya pula akan kembali. Asing, maka akan berhati-hati. Asing, maka tiada kawan sebaik Dia. Asing, maka kita akan memperbanyak bekal dan sedikitkan beban.

Pada perjalan ke USA ini, baru benar-benar merasakan menjadi asing. Asing dengan budayanya, asing dengan orang-orangnya dan asing dengan aturannya. Maka, hati-hati di setiap langkah adalah mutlak. Memperbanyak bekal agar dapat pulang ke Nusantara tercinta.

Jika di negeri orang harus seperti ini, apatah lagi di dunia. Karena kampung halaman yang sebenarnya adalah akhirat, sedang dunia hanya persinggahan sementara bagi para musafir negeri akhirat.

 

Las Vegas, 24 Syawal 1437 H

 

Standard

Belajar Dari Qurban

Bissmillahirrahmanirrahim…

Apa kabar iman kita hari ini?? Mudah-mudahan masih tetap menjadi penguasa dihati kita masing-masing.

Jika kita melihat tanggal,tidak terasa idul fitri sudah kita lewati yang sebelumnya didahului dengan perjuangan kita berpuasa sebulan penuh hingga akhrinya kita bisa mendapatkan kemuliaan pada idul fitri. Dan beberapa hari lagi kita akan merayakan salah satu hari kita,ya idul adha atau idul qurban.

Jika keutamaan idul fitri bisa kita dapatkan tatkala telah berpuasa selama sebulan penuh,lantas bagaimana dengan idul adha ini?? Bagaimana kita bisa mendapatkan kemuliaan dihari itu karena alangkah sia-sia kita merayakan idul adha,tapi tidak ada kemuliaan yang kita dapatkan di hari itu. Sesungguhnya yang penting dari idul adha buknlah shalat ied yang kita laksanakan meski hal itu merupakan sesuatu yang di sunnahkan oleh Rasulullah. Namun ada yang lebih penting dari itu yang telah di ajarkan nabi Ibrahim dan nabi Ismail,yaitu berkurban.

Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban.(Al-Kautsar: 2)

Apa sih sebenarnya hal penting yang terkandung dalam qurban?? Apakah hanya sekedar menyumbangkan sapi atau kambing untuk dipotong pada idul adha?? Apakah dengan begitu kita akan mendapatkan kemuliaan dari dari adha?? Itu saja belum cukup. Kalau begitu saja cukup,maka mulialah semua orang kaya yang mendapatkan kekayaanya dengan tidak halal karena bisa membeli banyak sapi untuk disumbangkan dan orang-orang yang tidak mampu tidak akan mendapatkan kemuliaan dari idul adha ini.

Masih ingatkah kita cerita nabiullah Ibrahim dan Ismail?? Dimana nabi ibrahim diperintahkan untuk mengorbankan anaknya denga cara disembelih, yang mana kita tau bahwa Ismail adalah anak yang paling di tunggu-tunggu setelah bertahun-tahun setelah menikah dengan Siti Hajar. Akhrinya kerena kekuatan iman yang ada pada nabi Ibrahim,perintah mengorbankan anaknya tersebut dilaksanakan juga. Begitupun dengan nabi Ismail,menerima perintah untuk dirinya diqurbankan. Namun saat nabi Ibrahim akan menyembelih nabi Ismail dengan parangnya yang sangat tajam,tiba-tiba saja parangnya menjadi tumpul dan dicoba beberapa kalipun parang tersebut tidak dapat mengeluarkan sedikitpun darah nabi Ismail. Akhirnya Allah SWT berfirman : “Wahai Ibrahim! Engkau telah berhasil melaksanakan apa yang aku perintahkan, demikianlah kami akan membalas orang-orang yang berbuat kebajikkan”. Kemudian sebagai tebusan ganti nyawa karena Ismail telah diselamatkan itu, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih seekor Qibas yang telah tersedia di sampingnya dan segera dipotong leher Qibas itu oleh beliau dengan parang yang tumpul di leher puteranya Ismail itu. Inilah awal sejarah perintah kita berqurban.

Dari cerita di atas, mengapa tidak dari awal Allah SWT memerintahkan untuk menyembelih Qibas?? Kenapa harus didahului dengan perintah menyembelih nabi Ismail?? Anak satu-satunya yang paling ia sayangi?? Jawabnya kerena Allah SWT ingin melihat seberapa besar kecintaan nabiNya tersebut kepada Rabbnya. Tidak semua dari kita bisa mengorbankan apa yang kita sayangi yang mungkin telah susah kita dapatkan. Namun melalui perintah berqurban ini,kita diajarkan mengorbankan apa yang kita miliki dengan membeli kambing atau sapi untuk dibagikan kepada orang-orang yang kurang mampu yang mungkin untuk makan saja susah.

Bagi kita yang belum bisa membeli sapi atau kambing sendiri,mungkin bisa patungan untuk membeli kambing atau sapi. Tidak penting berapa yang kita sumbangkan,namun yang kita sumbangkan tersebut merupakan sesuatu yang berat kita keluarkan namun tidak sampai membuat kita kekurangan. Jika 100.000 berat kita keluarkan untuk kita sumbangkan,maka sumbangkanlah. Jika 50.000 kita merasa berat kita sumbangkan atau bahkan jika 10.000 berat kita sumbangkan,maka sumbangkanlah. Jangan pernah hitung-hitungan untuk kecintaan kita kepada Allah SWT. Apa yang terjadi jika Allah SWT meminta bayaran dari nafas yang pernah kita hirup?? Sungguh jika kita dimintai dari setiap nafas yang pernah kita hirup harga tadi tidak akan bisa membayar itu semua. Oleh karena itu makna qurban adalah bagaimana kita mengorbankan apa yang kita cintai. Bukanlah seberapa besar yang kita sumbangkan yang penting,tapi yang penting apakah kita mau berqurban dan berbagi dengan mereka yang tidak mampu. Qurban tidak dapat dinilai oleh mata manusia,namun qurban yang kita lakukan hanya milik Allah SWT dan hanya Allah SWT yang dapat menilai besar qurban yang kita lakukan. Belum tentu besar dimata manusia,besar juga di hadapan Allah SWT. Begitupun sebaliknya,belum tentu kecil di mata manusia kecil pula dihadapan Allah SWT.

Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam’.(Al-An’am: 162)

Adapun hukum dari perintah qurban ini bagi kita umat muslim adalah sunnah muakkad,artinya sunnah yang recomended banget yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW.

Dalam riwayat Ibnu ABbas Rasulullah s.a.w. mengatakan “Tiga perkara bagiku wajib, namun bagi kalian sunnah, yaitu shalat witir, menyembelih qurban dan shalat iedul adha” (H.R. Ahmad dan Hakim).

Abu Haurairah yang menyebutkan Rasulullah s.a.w. bersabda “Barangsiapa mempunyai kelonggaran (harta), namun ia tidak melaksanakan qurban, maka jangan lah ia mendekati masjidku” (H.R. Ahmad, Ibnu Majah).

Dari 2 dalil hadis diatas,dapat dilihat seberapa pentingnya perintah berqurban buat kita yang mempunyai kemampuan untuk berqurban. Walaupun sunnah,namun apabila kita menganggap remeh atau tidak menghiraukan perintah qurban ini,maka Rasulullah melarang kita menedekati Masjid. Jika mendekati masjid saja dilarang,bagaiaman mungkin Rasulullah mau mengakui kita sebagai ummatnya kelak di akhirat dan memberikan syafaat. Mau masuk rombongan siapa kita kelak kalau Rasulullah tidak mau mengakui kita sebagai ummatnya??

Namun bagi kita yang mau berqurban,sebesar apapun itu akan mendapatkan keutamaan-keutamaan yang luar bisa dari Allah SWT,sebagai ganjaran kecintaan kita Rabb kita Allah SWT. Keutamaan tersebut diantaranya adalah hewan yang kita qurban tadi akan menjadi memebersihkan diri kita dan harta kita.

“Sabaik-baik amal bani adam bagi Allah di hari iedul adha adalah menyembelih qurban. Di hari kiamat hewan-hewan qurban tersebut menyertai bani adam dengan tanduk-tanduknya, tulang-tulang dan bulunya, darah hewan tersebut diterima oleh Allah sebelum menetes ke bumi dan akan membersihkan mereka yang melakukannya” (H.R. Tirmizi, Ibnu Majah).

Bagi kita yang berqurban juga,akan mendapatkan pengampunan dosa dari Allah SWT.

Rasulullah SAW telah bersabda kepada anaknya, Fatimah, ketika beliau ingin menyembelih hewan qurban. ”Fatimah, berdirilah dan saksikan hewan sembelihanmu itu. Sesungguhnya kamu diampuni pada saat awal tetesan darah itu dari dosa-dosa yang kamu lakukan. Dan bacalah : Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah  SWT, Rabb alam semesta. (HR. Abu Daud  dan At-Tirmiz)

Dosa yang diampuni disini bukanlah dosa-dosa super besar,seperti syirik,zina atau durhaka kepada orang tua karen untuk dosa yang demikian haruslah melakukan taubatan nasuha.

Keutamaan lain ketika kita melakukan qurban adalah mendapatkan keridhaan Allah SWT.

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (QS. Al Hajj: 37)

Apa tujuan sebenarnya kita hidup didunia ini?? Jawabnya yaitu mencari keridhaan Allah SWT. Karena sunnguh yang membuat seseorang masuk ke surga bukanlah amal ibadahnya,namun keridhaan Allah SWT karena jika amal ibadah kita jika ditimbang dengan nikamt yang Allah SWT berikan tidak akan pernah cukup. Oleh karena itu,qurban ini adalah salah satu jalan kita mendapatkan keridhaan Allah SWT maka amat sangat merugilah kita jika melewatkan kesempatan ini.

Dan masih banyak lagi keistimewaan yang didapatkan bagi mereka yang berqurban. Bagi kita yang sudah bisa berqurban,tunggu apa lagi?? Sebesar apapun itu yang kita sumbangkan untuk berqurban tidaklah masalah. Namun jika kita ingin diberikan terbaik oleh Allah SWT,maka kita juga harus memberikan yang terbaik yang kita punya. Jangan pernah berharap kita diberikan yang terbaik ketika kita juga hanya memberikan sekedarnya. Inilah ajang pembuktian kecintaan kita kepada Rabb kita hingga akhirnya kita bisa mendapatkan kemuliaan dari idul adha.

Sebagai pentup,berikut ada kisah nyata yang di share oleh seseorng di salah satu milis di internet tentang semangat berkorban. Semoga kita bisa memetik hikmah dari kisah ini dan malu jika kita menunda-nunda untuk berqurban atau hanya berqurban sekedarnya.

SEMANGAT QURBAN

Setelah melayani pembeli, saya melihat seorang ibu sdg memperhatikan dagangan kami, Dilihat dari penampilannya sepertinya gak akan beli.Namun saya coba hampiri dan menawarkan. “Silahkan bu. ibu itu menunjuk, “Kalau yg itu berapa bang?” Ibu itu menunjuk hewan yg paling murah.

Kalau yg itu harganya 600rb bu, jawab saya. Harga pasnya berapa?, 500rb deh. harga segitu untung saya kecil, tapi biarlah.. “Uang saya Cuma ada 450rb, boleh gak”. Waduh..saya bingung, karena itu harga modal kami, akhirnya saya berembug. “Biarlah..”

Sayapun mengantar hewan ibu, Ketika sampai di rumah ibu tersebut. Astaghfirullaah.. Allahu Akbar, terasa mengigil seluruh badan demi melihat keadaan rumah ibu tersebut.

Ibu itu hanya tinggal bertiga dgn ibu dan satu orang anaknya di rumah gubuk berlantai tanah. Saya tidak melihat tempat tidur/ kasur, yang ada hanya dipan kayu beralas tikar lusuh.

Diatas dipan sdg tertidur seorang nenek tua kurus. “Mak..bangun mak, nih liat Sumi bawa apa”, perempuan tua itu terbangun. “ Mak Sumi udah beliin kambing buat emak qurban, ntar kita bawa ke Masjid ya mak.

Orang tua itu kaget namun bahagia, sambil mengelus-elus kambing orang tua itu berucap,  Alhamdulillah , akhirnya kesampaian juga emak qurban.

“Nih bang duitnya, maaf ya kalau saya nawarnya ke murahan, saya hanya kuli cuci, saya sengaja kumpulkan uang untuk beli kambing yg mau saya niatkan buat qurban ibu saya.

Ya Allah…Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hambaMU yg satu ini. HambaMU yg Miskin Harta tapi dia kaya Iman. Seperti bergetar bumi ini setelah mendengar niat dari ibu ini.

“Bang nih ongkos bajajnya.!, panggil si Ibu, “sudah bu, biar ongkos bajaj saya yg bayar. Saya cepat pergi sblm ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah krn tak sanggup mendapat teguran dari Allah yg sudah mempertemukan dgn hambaNYA yg dgn kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya…

Surabaya,8 Dzulhijjah 1432 H

Standard

Melancong Keluar Negeri…

Apa yang terfikir dikepala kita mendengar jalan-jalan keluar negeri?? Beberapa diantara kita pasti terlintas sesuatu yang mewah,menghabiskan banyak uang atau senang-senang. Sehingga tidak jarang diantara kita jalan-jalan keluar negeri hanya diperuntukkan oleh orang kaya yang punya banyak uang. Jika kita masih mempunyai paradigma seperti itu,ada baiknya kita mulai membuka mata lebar-lebar. Jalan-jalan keluar negeri tidak hanya selalu bercerita tentang senang-senang,meski tidak dipungkiri kita akan menemukan kesenangan yang baru disana. Namun yang lebih penting dari itu semua adalah bahwa dengan berjalan-jalan ke negera lain kita akan akan mendapatkan banyak pengalaman baru. Di dunia ada banyak keragaman yang di ciptakan oleh Tuhan dan untuk bisa mempelajari itu semua kita tidak bisa hanya duduk diam di negera kita sendiri,bagai katak dalam tempurung. Kita harus keluar dari negara kita untuk melihat dan mempelajari keragaman tersebut. Kita sudah di era globalisasi kawan, kita butuh semua informasi yang ada di dunia ini untuk bisa bertahan dari kerasnya persaingan globalisasi. Oleh karena itu tak heran kalau para orang-orang kaya yang sering melancong ke luar negeri, sebagian besar dari merka bisa bertahan di era parsaingan bebas ini. Hal itu karena wawasan mereka sudah lebih terbuka dibanding mereka-mereka yang belum pernah sekalipun mencoba menginjak kaki ke tanah asing di luar negeri sana.

Mungkin kita bisa belajar pada artikel manarik pada Jawapos edisi 8 Agustus yang ditulis oleh  Rhenald Kasali,salah satu guru besar di UI. Bagaimana beliau membuka mata mahasiswanya tentang luar negeri dan apa manfaatnya jalan-jalan kesana. Ketika dosen lain masih berfikir-fikir untuk jalan-jalan keluar negeri,beliau malah mendorong mahasiswanya untuk jalan-jalan keluar negeri dan mengambil pelajaran yang ada di negeri orang. Berikut artikelnya

 

PASSPORT

Oleh Rhenald Kasali

[Jawapos, 8 Agustus 2011]

 

Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki pasport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan member tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki “surat ijin memasuki dunia global.”. Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau. “Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?” Saya katakan saya tidak tahu.

 

*Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang.

*Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hamper pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

 

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan,teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

 

The Next Convergence

Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh Sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing. Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari passport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

 

*Rhenald Kasali

Guru Besar Universitas Indonesia *

 

 

Nah setelah membaca artikel di atas,apa yang kita fikirkan setelah mendengar jalan-jalan keluar negeri?? Apakah masih sesuatu yang masih sia-sia dan buang-buang uang?? Mudah-mudahan paradigm kita telah berubah. Melancong keluar negeri tidak hanya milik mereka yang berduit. Namun jika kita ingin mendapat banyak pengalaman, maka mulai sekarang mari membuat passport. Masalah ongkos jalan-jalan tidak usah kita fikirkan sekarang. Jika kita mempunyai keinginan kuat untuk melancong keluar nageri,kita pasti akan menemukan jalannya. Entah itu dari sponsor atau ada rezeki yang tak disangaka-sangka yang membuat kita bisa berjalan-jalan ke negeri orang. Dimana ada keinginan,maka disitu ada jalan.

Dengan melancong keluar negeri kita bisa banyak belajar dari peradaban-peradaban dunia, mengambil hikmah dari peradaban tersebut dan menjadikan bekal kita untuk menghadapi era persaingan bebas ini. Ini era informasi kawan, mereka yang menguasai informasilah yang akan bisa bertahan dari kerasnya persaingan. Kalau diantara kita belum berfikiran untuk mau melancong keluar negeri,maka mulai dari sekarang mulailah memasukkan jalan-jalan keluar negeri sebagai suatu pencapaian dalam waktu dekat ini yang akan kita raih. Jangan mau jadi katak dalam tempurung.

Surabaya,13 Ramadhan 1432 H

 

Standard

Antara Rakyat dan Wakilnya

Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar wakil rakyat?? diantaranya pasti rapat,tujangan rapat,tunjangan dinas atau mungkin gedung mewah. Namun apa yang terlintas ketika kita mendengar kata rakyat?? Diantaranay mungkin kelaparan,pendidikan kurang atau mungkin bahan pokok yang makin melambung. Ya seperti itulah kehidupan di negeri kita tercinta,Indonesia. Maka tidak heran jika yang terlintas di benak kita ketika mendengar dua kata di atas kita memiliki persepsi yang kontras.

 

Kenyataan ini makin diperkuat oleh ancaman seorang kepala desa Mungguk Gelombang, Kecamatan Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang yang akan mengibarkan bendera Malaysia di hari peringatan HUT RI nanti (Tribunnews.com). Hal yang dilakukan kepala desa ini bukan tanpa alasan yang kuat. Hasil pantauan yang dilakukan wartawan Tribunnews di lapangan ,mendapati kondisi desa yang berpenduduk 1.286 jiwa (344 KK), dengan mata pencarian utama menoreh karet dan bertani lada, sangat memprihatinkan. Insfrastruktur buruk, sarana pendidikan memprihatinkan, fasilitas kesehatan pun tak memadai. Penerangan pun jauh dari harapan. Tingkat pendidikan di daerah ini terbilang sangat rendah. Dari seluruh penduduk, hanya belasan yang lulus SMA, 20 persen lulus SMP, 50 persen lulus SD, dan sisanya putus sekolah dan tidak pernah sekolah. Sekretaris Desa Mungguk Glombang, Wahyudi, mengatakan, di desanya hanya ada satu sekolah, yakni SDN 30 Mungguk Gelombang. Dua sekolah lainnya merupakan sekolah kelas jauh (cabang SDN 30). “Di desa kita ini semuanya masih serba kekurangan, mulai dari jalan, pendidikan, kesehatan, dan penerangan. Yang paling mendesak itu adalah jalan, karena kondisinya sangat buruk,” katanya. Kepala desa sebenarnya sudah sering meminta bantuan kepada pemerintah daerah,namun tidak pernah ada jawaban. Yang ada hanyalah janji-janji manis khas para pejabat.

 

Dari kondisi di atas,maka kepala desa mengancam akan mengibarkan bendera Malaysia pada tanggal 17 Agustus 2011 nanti. Mendapat ancaman tersebut,barulah pemerintah baru mau bergerak membantu masyarakat desa Mungguk Gelombang. Bagaimana jadinya jika kepala desa tadi tidak mengambil tindakan tersebut?? bisa-bisa masyarakat desa Mungguk Gelombang sampai saat ini masih belum didengar penderitaanya.

 

Sungguh suatu kondisi yang ironi,dimana pada saat bersamaan wakil rakyat yang terhormat sementara membangun gedung mewah dengan anggaran yang sampai triliunan meskipun gedung yang lama masih sangat-sangat bagus. Atau mungkin ada sebagian wakil rakyat yang sedang asyik jalan-jalan ke luar negeri dengan alasan studi bandinglah atau apalah yang sebetulnya tidak mengahasilkan apa-apa. Mereka hanya mementingkan keadaanya dibandingkan keadaan rakyat Indonesia yang masih serba kekurangan.

 

Sebenarnya bisa saja kan anggaran yang sampai triliunan untuk membangun gedung mewah para wakil rakyat tersebut digunakan untuk membangun jembatan-jembatan desa yang sudah rusak,memperbaiki sekolah-sekolah yang sudah hampir rubuh atau membangun sarana-sarana umum yang dapat menunjang kesejahtraan rakyat dari bangsa ini. Seharusnya para wakil rakyat tersebut bisa berfikir terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan. Bukankah mereka adalah orang-orang dengan pendidikan tinggi?? Tapi mungkin sebagian besar di antara mereka hanya manusia-manusia tidak bernurani. Yang lebih mementingkan perut mereka dari pada perut rakyat. Yang lebih tempat kerja yang nyaman ketimbang perbaikan sekolah-sekolah.

 

Maka jangan heran jika bangsa ini tidak akan maju. Dan pantaslah orang-orang pintar negeri ini tidak mau kembali ke Indonesi karena mereka yakin tidak bisa berkembang jika masih dipimpin oleh manusia-manusia tak bernurani. Yakinlah selama negara ini dipimpin sama orang-orang yang gila akan harta dan jabatan,maka selama itu pula negara ini akan semakin terbelakang.

 

Oleh karena itu perlu dilkukan lagi gerakan perubahan.Tidak harus sampai memboikot gedung DPR/MPR,namun yang lebih penting adalah mengajrkan generasi muda bangsa ini untuk tidak mengikuti contoh buruk dari wakil-wakil rakyat yang korup. mengajarkan betapa pentignya menjalakan amant yang diberikan. Dengan begitu akan tercipta kondisi rakyat indonesia yang makmur dan sejahtra. Proses ini mngkin akan memakan waktu lama,namun lebih baik dari pada tidak sama sekali.

 

 

 

Surabaya,9 Ramadhan 1432H

 

Standard

Impian,energi yang takkan pernah habis…

Impian adalah suatu pencapaian yang di ingin dicapai seseorng dalam hidupnya. Setiap orang di lahirkan dengan impian,namun yang membedakan dari setiap orng adalah usaha yang dilakukannya dalam meraih impiannya tersebut. Tak peduli sebesar apa impian yang kita miliki atau sekecil apapun impian itu,jika kita ingin hidup bahagia maka raihlah impian. kebahagian hidup bukan terletak pada seberapa banyak materi yang kita punya,tapi terletak pada hati kita masing-masing. Oleh karena itu banyak orang yang mati-matian mengejar mimpinya meski mungkin besok ia sudah tidak dapat melihat dunia lagi,tapi ia akan terus mengejarnya.

 

Pesan inilah ini yang kudapat dari sebuah dorama jepang yang berjudul Rookies. Kisah 10 orang anak SMA yang tergabung di baseball club.Suatu hari club ini terlibat perkelahian dalam sebuah pertandingan baseball,sejak saat itu club ini di cap sebagai club pembuat onar dan suka berkelahi. Akhirnya hal tersebut membuat mereka menjadi brutal dan liar. Tidak ada satu gurupun yang dapat menyadarkan mereka. Hingga akhirnya datanglah seorang guru yang bernama Kawato. Guru yang selalu bersemangat dan pembwaanya yang selalu berteriak-teriak ketika menyemangati murid-muridnya. Guru yang akan selalu memperjuangkan mimpi-mimpi muridnya meski hal itu terlihat mustahi. Tidak terkecuali murid-muridnya dari baseball club tersebut diaman sebenarnya setiap dari mereka mempunyai impian untuk bertanding koeshin namun karena mereka semua sudah dicap sebagai club yang brutal maka merekapun mengubur impiannya tersebut. Tapi di tangan pak kawato ini akhirnya mereka kembali memperjuangkan impiannya tersebut dan bisa mengubah citra baseball club. Dalam dorama ini terlihat sangat jelas bagaimana sebuah impian dapat mengubaha sesorang yang tadinya sangat liar kembali menjadi orang yang baik. selain itu di dalam dorama ini sangat kental arti dari persahabtan yang mereka jalin. bagaimana sebuah persahabtan dapat bersatu kembali setelah hancur karena perbedaan prinsip dari mereka. Hingga akhirnya dari berbagai serangkaian peristiwa mereka bisa mengikuti pertandingan di koeshin.

 

Apa yang membuat mereka hingga akhirnya bisa mencapai impiannya tersbut?? bukan karena pak kuwato yang jago dalam baseball karena pa kawato sendiri tidak tau apa-apa tentang baseball,namun yang ia tahu bahwa setiap orang memiliki impian dan siapapun pasti ingin menggapainya. Namun dari kita tidak tahu bagaimana caranya atau tidak memiliki semnagt yang cukup besar untuk meraihnya dan itulah yang dilakukan pa kawato,membangkitkan semngat masing-masing dari mereka meski untuk hal itu tidak mudah. Dan memang untuk meraih impian itu tidaklah mudah. Segala apa yang kita impikan didapat dengan mudah maka hal itu tidak akan menjadi berati. Untuk meraih apa yang kita impikan membutuhkan banyak pengorbanan darah dan air mata barulah impian itu akan sangat berarti buat kita.

 

Mungkin sering kita dengar jika bermimpi jangan muluk-muluk karena kalau jatuh akan sakit,namun yang justru yang harus kita lakukan adalah bermimpi yang muluk-muluk. Buat apa kita bermimipi sesuatu yang kita memang dapt meraihnya?? itu tidak akan membuat kita berjuang dengan segenap kemampuan kita. Kita harus merasakan yang namanya sakit barulah impian itu di rasa akan sangat berarti. bermimpilah setinggi bintang-bintang di langit. tidak penting seberapa susah kita nantinya akan berproses untuk menggapai impian tersebut,selama kita masih kita yakin akan impian suatu hari kita pasti akan mendapatkannya. Mendakilah dari bawah hingga akhirnya kita mencapai puncak impian kita. Percayalah selama impian kita ada,maka kita tida akan pernah kehabisan energi untuk bergerak dan terus bergerak untuk mencapai impian kita.

 

Mungkin apa yang kita impiakan untuk saat ini masih terlihat mustahil,tapi yakinlah jika kita tidak pernah berhenti berlari(bukan hanya sekedar berjalan) mengejar impian kita suatu hari kita akan smapi dan tersenyum puas. Semua penderitaan yang kita rasakan akan terbayar dengan sampainya kita pada impian kita…

 

Surabaya,1 Ramadhan 1432 H.

Standard